Anda Mencari Biro Jasa Konsultan ISO 9001 Murah di Bireuen Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Biro Jasa Konsultan ISO 9001 Murah di Bireuen Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Biro Jasa Konsultan ISO 9001 Murah di Bireuen

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Biro Jasa Konsultan ISO 9001 Murah di Bireuen

Jasa Konsultan ISO 9001 Terbaik dan Berpengalaman di Papua

Jasa Konsultan ISO 9001 Terbaik dan Berpengalaman di Papua | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Konsultan ISO 9001 Terbaik dan Berpengalaman di Papua

Tiga pegawai Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kehutanan yakni Magdalena Gultom (45), warga Jalan Tekuku

Tiga pegawai Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kehutanan yakni Magdalena Gultom (45), warga Jalan Tekukur II/31, Perum Bekasi, Agata Susilowati (52), warga Perumahan Titian Kencana, Bekasi Barat dan Nandar Aditia (25) seorang sopir warga Jalan Kusuma Timur, Blok D 27/5, Kelurahan Arum Jaya, Bekasi tewas setelah mengalami kecelakaan di KM 32.600 Tol Jagorawi, Senin (10/3). Informasi yang telah diperoleh menyebutkan kecelakaan nahas itu telah terjadi sekitar pukul 06.30 pagi WIB saat mobil Nissan Terrano yang ditumpanginya melintas dari Jakarta menuju Bogor. Diduga karena Nandar, sang sopir mengantuk akhirnya menabrak mobil boks di depannya hingga terbalik. Korban tewas mengalami luka benturan di bagian kepala dan dada. Saat ini, seluruh korban sudah berada di ruang forensik RS PMI Bogor. Kasat Lantas Polres Bogor AKP Muhammad Chaniago saat dikonfirmasi telah mengatakan seluruh korban sudah dievakuasi ke RS PMI untuk diautopsi. "Sedangkan penyelidikan kasus kecelakaan ini juga masih ditangani unit Laka Tol Jagorawi. Dugaan sementara karena sang sopir mengantuk," katanya. Berdasarkan pantauan hingga saat ini belasan rekan kerja korban di Balitbang, Kementerian Kehutanan yang berkantor di Gunung Batu, Bogor Barat, Kota Bogor ramai mengunjungi ruang forensik RS PMI. Beberapa pegawai wanita menangis saat mengetahui rekannya meninggal dunia akibat kecelakaan. "Korban sebelumnya bertugas di Balitbang di kantor Jakarta, baru dua bulan pindah ke Bogor," tutur salah seorang rekan kerja korban.

saco-indonesia.com, Kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Mapolres Poso, Sulawesi Tengah, Senin (3/6/2013) pagi, setelah meledaknya sebuah bom yang diduga dilakukan seorang pengendara sepeda motor.

POSO, Saco-Indonesia.com — Kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Mapolres Poso, Sulawesi Tengah, Senin (3/6/2013) pagi, setelah meledaknya sebuah bom yang diduga dilakukan seorang pengendara sepeda motor. Berdasarkan laporan kontributor KompasTV, Manshur Tobone, pelaku mengendarai motor seorang diri.

Sebelum memasuki halaman Mapolres, pelaku sempat ditahan penjaga. Namun, pelaku memaksa masuk dan menerobos pintu penjagaan Mapolres. Tak lama, ia meledakkan bom tepat di depan mushala Mapolres. Kemudian pelaku tewas di lokasi.

Sementara itu, dalam wawancara dengan KompasTV, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen (Pol) Boy Rafli Amar mengungkapkan, kepolisian masih mengidentifikasi pelaku.

"Proses olah TKP sedang berjalan untuk mengidentifikasi pelaku yang rusak berat. Perlu dicari tahu siapa pemuda ini," ujarnya.

Mengenai motif, Boy mengatakan, dengan pola yang dilakukan, motif diduga karena masalah teror. "Motif sedang didalami dan diselidiki lebih lanjut," kata Boy.

Ia mengungkapkan, saat ini polisi sudah mengantongi data-data dari kelompok yang diduga melakukan pengeboman.

 
Editor :Liwon Maulana
Sumber:Kompas.com

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Artikel lainnya »