Sertifikasi Halal

Anda Mencari Biro Jasa Konsultan ISO 9001 di Kalimantan Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Biro Jasa Konsultan ISO 9001 di Kalimantan Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Biro Jasa Konsultan ISO 9001 di Kalimantan

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Biro Jasa Konsultan ISO 9001 di Kalimantan

Konsultan ISO 22000 Terbaik dan Berpengalaman di Tojo Una-Una

Konsultan ISO 22000 Terbaik dan Berpengalaman di Tojo Una-Una | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Konsultan ISO 22000 Terbaik dan Berpengalaman di Tojo Una-Una

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjajaki untuk menggelar pesta rakyat bersamaan dengan HUT ke- 486 DKI Jakarta di pelataran Monumen Nasional (Monas).

JAKARTA, Saco- Indonesia.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjajaki untuk menggelar pesta rakyat bersamaan dengan HUT ke-486 DKI Jakarta di pelataran Monumen Nasional (Monas). Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama menampik bahwa pergelaran itu sebagai acara tandingan dari Pekan Raya Jakarta (PRJ).

"Enggak sampai ngomong cabut saham. Tidak ada mau mengubah JIExpo. Pameran silakan saja, tapi boleh dong ada juga yang berbasis budaya," ujar Basuki di kantornya, Senin (3/6/2013) siang.

Rencana pesta rakyat tersebut, lanjutnya, dimulai dari keprihatinan terhadap karakteristik budaya Betawi yang kian minim di PRJ. Padahal, PRJ digelar untuk memperingati HUT DKI Jakarta. Oleh karena itu, Pemprov DKI berencana untuk menyelaraskan PRJ dengan pesta rakyat.

"Mulai tahun ini kita susun ada festival rakyat, ada car free night. Jadi, kalau JIExpo pameran, silakan pameran saja. Kita punya konsep sendiri yang sifatnya lebih kerakyatan," ujar Basuki.

Jika masuk ke arena PRJ harus merogoh kocek, pria yang akrab disapa Ahok tersebut menegaskan bahwa di pesta rakyat nantinya pengunjung tak dipungut biaya alias gratis. Kebijakan itu dilakukan agar seluruh warga DKI bisa turut menikmati kemeriahan HUT kotanya.

"Kalau sekarang, yang bisa masuk Jakarta Fair kan hanya kalangan atas. Yang kalangan bawah kan tidak menikmati HUT DKI. Maka, kita ingin tak terlalu elite dan enggak bayar," ujarnya.

Menurut rencana, pesta rakyat tersebut akan digelar pada HUT DKI Jakarta tahun 2014. Pesta rakyat tersebut direncanakan menggunakan pelataran Monas. Jika di PRJ stan yang ada berasal dari perusahaan raksasa, di pesta rakyat ini stan yang digelar lebih berlandaskan budaya, misalnya pameran kesenian.

Meski demikian, Basuki yang merupakan mantan anggota DPR tersebut mengatakan, pihaknya masih akan melakukan kajian mendalam terkait rencana pergelaran pesta rakyat itu, mulai dari konsep acara hingga teknis pelaksanaan.

Editor :Liwon Maulana

Sumber:Kompas.com

Setelah asyik bermain di pantai tepatnya di Pulau Untung Jawa di bulan Maret 2013 lalu, perjalanan selanjutnya di bulan April 20

Setelah asyik bermain di pantai tepatnya di Pulau Untung Jawa di bulan Maret 2013 lalu, perjalanan selanjutnya di bulan April 2013 AK dan beberapa teman mengadakan trip menuju Taman Wisata Cibodas dan sekitarnya. Berikut catatan perjalanannya :

Sabtu pagi setelah menunaikan sholat shubuh beberapa teman yang ikut dalam trip ini sudah berkumpul di star point yang ditentukan, beberapa lagi masih ada saja yang belum hadir dikarenakan sibuk dengan barang bawaan. Setelah semuanya kumpul dengan jumlah 8 orang dan mobil Innova serta sopirnya yang udah di booking sebelumnya siap untuk menuju Taman Wisata Cibodas.

Tepatnya jam 5.30 pagi AK dan teman - teman sudah berangkat menuju Taman Wisata Cibodas, hal ini dilakukan agar kami lebih cepat sampai ke sana dan tidak terjebak macet di jalur puncak Bogor. AK dan teman - teman  menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dengan diiringi musik pilihan yang telah disediakan, mengobrol sambil menikmati beberapa makanan yang dibawa oleh teman teman cukup untuk menghilangkan suntuk dan bete serta agar suasana menjadi nyaman.

Perjalanan ditempuh sekitar 2 setengah jam dari Jakarta Barat, walaupun sempat kelewat sampai Cipanas karena asyiknya suasana di dalam mobil hingga tidak ada yang perhatikan tanda masuk ke Cibodas. Setelah berbalik arah, mobil pun memasuki kawasan Wisata Cibodas sekitar pukul 8 pagi saat itu.

Setelah membayar dipintu masuk seharga Rp. 9.500/ orang dan 16 ribu untuk mobilnya, kami pun mengitari dengan mobil  beberapa tempat yang asyik di kawasan ini. Akhirnya kamipun sepakat untuk memarkir mobil di parkiran menuju Air terjun Ciismun di kawasan Cibodas ini.

Perjalanan dari parkir mobil menuju air terjun Ciismun ditempuh sekitar setengah jam, melihat indahnya air terjun dan bermain air menjadi semangat kami untuk terus melangkah agar sampai ke tujuan. Dan beberapa momen yang tidak terlewatkan kami abadikan berikut ini :

Terpana adalah kata yang pas buat perasaan kami saat sampai di air terjun Ciismun ini, air terjun yang tersembunyi ini sangat memukau penglihatan kami kala itu, ditambah suasana pagi yang sepi saat itu serasa hanya kami yang menikmati keindahan air terjun Ciismun ini.  Beberapa dari kami langsung bermain air di air terjun ini, beberapa yang lain menikmati pemandangan air terjun yang memukau sambil mencari spot untuk berphoto ria.

Setelah kurang lebih 1 jam di air terjeun Ciismun, kami pun bersiap - siap untuk melakukan perjalanan kembali ke area parkir mobil, karena lelahnya perjalanan saat itu kami pun siap untuk  menikmati makan siang yang kami bawa dari rumah sambil menikmati hijaunya alam Cibodas.

Setelah menikmati makan siang kami kembali mengelilingi kawasan Cibodas dengan mobil, beberapa saat mobil berhenti agar kami bisa menikmati  hamparan  taman hijau yang  luas  atau pemandangan kolam air mancur yang indah serta gunung dan pohon pohon yang rindang.

Sebenarnya masih banyak area menarik di kawasan ini yang belum sempat kami kunjungi namun karena waktu sudah siang dan kami ingin melanjutkan perjalanan selanjutnya, kami pun segera menuju pintu keluar 2 dari kawasan Cibodas menuju parkiran air terjun Cibereum yang dekat dengan pintu masuk wisata Mandalawangi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Namun sebelumnya kami santai sejenak di area parkir sambil menikmati beberapa jajanan yang ada di area ini, melaksanakan sholat dan bersih bersih di wc yang ada di area ini dengan membayar Rp. 2000 untuk buang air kecil dan Rp. 3000 untuk mandi dan buang air besar.

Sekitar kurang lebih pukul 13.00 kami pun mulai perjalanan menuju air terjun Cibereum yang berada 1.675 diatas permukaan laut ini harus kami daki sekitar 1 jam. Setelah membayar tiket di pintu masuk Rp. 2.500/ orang kami pun mulai memasuki jalan berbatu di tengah hutan.

Perjalanan menuju air terjun Cibereum ini amat sangat melelahkan, melewati hutan yang gelap walau kadang ada jalan yang sudah bagus. Sesaat berjalan kami harus istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah dan letih seraya memberi semangat kepada teman teman untuk sampai ke tujuan.

Setelah berjuang sepanjang jalan dengan keringat yang bercucuran, akhirnya air terjun Cibereum dapat kami taklukan. Kami pun hanya bisa bengong  melihat indahnya alam yang mempesona ini dan ternyata ada 2 air terjun lain yang berdekatan dengan air terjun Cibereum ini.  Sungguh menakjubkan, kami pun tak lupa mengabadikan momen ini.

Perasaan bangga dan bahagia bersatu dalam jiwa kami saat berada di tempat yang jauh ini, rasa lelah dan letih seakan sirna dengan sampainya kami di tempat ini. Kami pun mulai menikmati  suasana ramai saat itu, sesekali bermain air dan makan makanan yang kami sudah siapkan.

Ketika waktu sudah sore, kamipun mulai melangkah turun menuju parkiran mobil, sesampainya disana dan sebelum meninggalkan kawasan wisata tak lupa kami membeli beberapa oleh - oleh seperti sandal, kaos, tas, makanan ringan dan sayur - sayuran dengan harga terjangkau tentunya.

Akhirnya usai sudah perjalanan kali ini, mobilpun bergegas menuju Jakarta, sesaat kami berhenti di kawasan Puncak Bogor untuk sejenak menikmati indahnya hamparan kebun teh di Kawasan Wisata Gunung Mas. Demikian

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.

BEIJING (AP) — The head of Taiwan's Nationalists reaffirmed the party's support for eventual unification with the mainland when he met Monday with Chinese President Xi Jinping as part of continuing rapprochement between the former bitter enemies.

Nationalist Party Chairman Eric Chu, a likely presidential candidate next year, also affirmed Taiwan's desire to join the proposed Chinese-led Asian Infrastructure Investment Bank during the meeting in Beijing. China claims Taiwan as its own territory and doesn't want the island to join using a name that might imply it is an independent country.

Chu's comments during his meeting with Xi were carried live on Hong Kong-based broadcaster Phoenix Television.

The Nationalists were driven to Taiwan by Mao Zedong's Communists during the Chinese civil war in 1949, leading to decades of hostility between the sides. Chu, who took over as party leader in January, is the third Nationalist chairman to visit the mainland and the first since 2009.

Relations between the communist-ruled mainland and the self-governing democratic island of Taiwan began to warm in the 1990s, partly out of their common opposition to Taiwan's formal independence from China, a position advocated by the island's Democratic Progressive Party.

Despite increasingly close economic ties, the prospect of political unification has grown increasingly unpopular on Taiwan, especially with younger voters. Opposition to the Nationalists' pro-China policies was seen as a driver behind heavy local electoral defeats for the party last year that led to Taiwanese President Ma Ying-jeou resigning as party chairman.

Artikel lainnya »