Training ISO 9001 versi 2015

Anda Mencari Jasa Konsultan ISO 9001 di Kepulauan Aru Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Jasa Konsultan ISO 9001 di Kepulauan Aru Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Jasa Konsultan ISO 9001 di Kepulauan Aru

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Jasa Konsultan ISO 9001 di Kepulauan Aru

Jasa Training ISO di Karimun

Jasa Training ISO di Karimun | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Training ISO di Karimun

  Paket Murah Pulau Tidung Untuk berwisata pastinya banyak dari berbagai golongan baik, dari pribadi atau peror


 

Paket Murah Pulau Tidung

Untuk berwisata pastinya banyak dari berbagai golongan baik, dari pribadi atau perorangan,
keluarga, organisasi, atau untuk semua lapisan masyarakat pada umumnya, mereka semua
pastinya ingin berwisata ketempat yang bisa membuat hati jadi tenang tentram, untuk menghapus
sejenak rasa penat dan kelelahan di setiap kepenatan bekerja.

Untuk itu Indonesia terkenal dengan sumber kekayaan alam, dan tempat wisata yang indah indah,
termasuk di ibukota nya. salah satunya wisata ke Pulau Tidung.

Pulau Tidung ini sangat di gemari para wisatawan baik dari jakarta, maupun dari luar jakarta
.hal ini di karenakan Pulau Tidung ini selain indah juga ada beberapa tempat yang mempunyai sejarah
seperti :

- sejarah Pulau Tidung
- sejarah jembatan cinta
- sejarah raja pandita

Yang mana tempat tempat ini adalah tempat yang nyaman dan aman, untuk di kunjungi dari jaman
dahulu kala.
Untuk itu bagi yang mau berwisata ke pulau ini, sangat sayang sekali kalau tidak mengetahui
sejarah dari tempat ini.

Untuk mengetahui sejarah dari Pulau Tidung, jembatan cinta , dan raja pandita, akan saya bahas
season berikutnya.di dalam website www.pulautidungjaya.com

saco-indonesia.com, Tim Propam Kepolisian Daerah Bangka Belitung telah berhasil mengamankan Kapolsek Toboali, AKP SMB di rumah d

saco-indonesia.com, Tim Propam Kepolisian Daerah Bangka Belitung telah berhasil mengamankan Kapolsek Toboali, AKP SMB di rumah dinasnya di Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. SMB telah diamankan terkait dalam kasus pasir timah.

"Tim Propam Polda Babel telah mengamankan Kapolsek Toboali pada Minggu (26/1) lalu terkait dalam dugaan penyimpanan pasir timah seberat 600 kilogram di kamar mandi rumah dinasnya," ujar Kabid Humas Polda Babel AKBP Riza Yulianto di Pangkalpinang, Kamis (30/10).

Selain telah mengamankan Kapolsek Toboali, Tim Propam juga telah berhasil menangkap Robby warga Kampung Lalang, Kecamatan Toboali dan seorang anggota Reskrim Polsek Toboali yang diduga telah menjual pasir timah tersebut kepada Kapolsek. "Saat ini Kapolsek Toboali masih harus menjalani pemeriksaan Propam karena telah menyimpan dan memperjualbelikan pasir timah itu," katanya.

Kapolsek itu diduga telah melakukan pelanggaran disiplin berupa menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi sesuai Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003. Dia juga menyebutkan, saat penggerebekan aparat kepolisian telah menyita 12 kampil berisi pasir timah yang disembunyikan di dalam sebuah baskom.

"Pada saat pengecekan di rumah anggota Reskrim Polsek Toboali, Propam juga telah menemukan 10 kampil timah, masing-masing lima kampil berisi pasir timah kering dan lima kampil berisi timah basah," ungkapnya.

Pada saat Tim Propam menelusuri rumah dinas anggota Reskrim tersebut, juga telah diamankan seorang penjual timah bernama Robby dan setelah dilakukan pengecekan ditemukan 12 kampil timah seberat 600 kilogram. "Dari tangan Robby juga didapatkan tiga kampil pasir timah seberat 150 kilogram yang hendak dia jual kepada Kapolsek Toboali," ujarnya.


Editor : Dian Sukmawati

Mr. Miller, of the firm Weil, Gotshal & Manges, represented companies including Lehman Brothers, General Motors and American Airlines, and mentored many of the top Chapter 11 practitioners today.

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Artikel lainnya »