Anda Mencari Jasa Konsultan ISO 9001 di Lanny Jaya Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Jasa Konsultan ISO 9001 di Lanny Jaya Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Jasa Konsultan ISO 9001 di Lanny Jaya

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Jasa Konsultan ISO 9001 di Lanny Jaya

Jasa Training ISO 27001 di Pariaman

Jasa Training ISO 27001 di Pariaman | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Training ISO 27001 di Pariaman

Banyak sekali pengemudi mobil yang telah melengkapi mobil Toyotanya dengan lampu HID agar lebih terang maupun enak dipandang mat

Banyak sekali pengemudi mobil yang telah melengkapi mobil Toyotanya dengan lampu HID agar lebih terang maupun enak dipandang mata karena sorot cahayanya yang berwarna putih. Dan masih banyak juga yang masih binggung ataupun bimbang di dalam memilih HID yang tepat untuk mobilnya. Kali ini, kita akan membahas lebih dalam tentang bohlam HID beserta kelebihan dan kekurangan lampu HID itu sendiri agar tidak terjebak maupun ragu-ragu ketika memutuskan untuk menggunakan bohlam HID sebagai pilihan utama untuk penyinaran mobilnya.

Pengertian Lampu HID

HID sendiri telah memiliki kepanjangan, yaitu High Intensity Discharge atau yang lebih dikenal dengan lampu Xenon yang mampu untuk menghasilkan cahaya dengan tingkat intensitas yang tinggi alias lebih terang. Untuk tingkat keterangan warna dari lampu HID ditentukan oleh satuan derajat Kelvin (K) dan untuk menyalakan lampu HID diperlukan ballast, yang juga merupakan alat untuk menyediakan dan mengendalikan voltase lampu termasuk juga untuk dapat menstabilkan aliran listrik pada mobil.

Saat ini, sudah sangat banyak sekali lampu HID dengan berbagai merk atau tipe dengan kualitas yang berbeda-beda, produksi dan tentu saja berbeda harga. Karena banyak merk dan kualitas serta janji-janji yang telah ditawarkan, kita juga harus jeli di dalam memilih lampu HID untuk diaplikasikan pada kendaraan kita.

Untuk jenis atau tipe lampu HID yang beredar dipasaran, umumnya telah terdiri dari lampu-lampu model H1,H3,H4,H7,H8,H11,HB3,HB4. Yang telah membedakan antara kode H tersebut adalah pada kedudukan bohlamnya di headlamp mobil kita, sedangkan untuk ballast dapat dikatakan sama semuanya bentuknya (Ingat, sama bentuk belum tentu sama kualitasnya) Model yang paling umum beredar di Indonesia adalah tipe H4 dimana antara lampu jauh dengan lampu dekat menjadi satu.

Warna Cahaya Lampu HID

Lampu HID telah memiliki beberapa tingkatan warna yang dihasilkan berdasarkan perbedaan Kelvin, dan berikut ini adalah daftar warna Lampu HID yang terdapat di pasaran :

    3.500 K mengeluarkan warna Kuning seperti bohlam lampu standart mobil

    4.300 K / 5.000 K mengeluarkan warna putih kekuning-kuning an

    6.000 K / 6.500 K mengeluarkan warna Putih

    8.000 K/ 8.500 K mengeluarkan warna Putih kebiru-biru an

    10.000 K mengeluarkan warna Biru agak keungu-ungu an

    12.700 K mengeluarkan warna Ungu

    15.000 K mengeluarkan warna Pink

Warna lampu HID mobil

Warna Lampu HID

Dari daftar warna di atas, kita juga dapat mengetahui bahwa semakin tinggi Kelvin maka akan mengalami gradasi warna menuju kebiru-biruan ataupun ungu. Hal yang paling penting untuk diingat adalah ketika pemasangan lampu HID selalu pastikan bahwa lampu yang terpasang adalah dengan ukuran 35 watt, jangan memasang yang 50 watt (tidak compatible) karena akan membuat mika head lamp menjadi cepat kuning akibat panas yang berlebihan.

Kelebihan dan Kelemahan lampu HID

Apabila membahas penggunaan lampu HID, maka kelebihan yang telah ditawarkan dari lampu ini (menurut saya) adalah gaya. Tentu sangat enak dilihat ketika melihat cahaya lampu putih yang keluar dari head lamp mobil TETAPI hal ini seringkali menyengsarakan saya sebagai pengemudi ketika di depan mobil yang menggunakan lampu HID.

Pilihan yang paling tepat di dalam menggunakan lampu HID adalah yang 4.300 K, dimana Toyota Fortuner, Alphard maupun mobil premium Toyota lainnya juga sudah menggunakan lampu HID sebagai standart bawaan mobil. Dan batas tolerir yang masih saya anggap menguntungkan adalah pemakaian lampu HID 5.000 / 5.300 K, dimana cahaya yang dikeluarkan masih putih kekuning-kuningan.

Kelemahan lampu HID juga sangat terlihat untuk lampu HID diatas 5.300 Kelvin tentu saja lampu HID yang dipasang lebih diperuntukan untuk mobil-mobil show off ataupun pameran karena cahaya lampu yang dihasilkan tidak dapat menembus hujan maupun kabut. Hal ini tentu saja telah menyusahkan pengemudi yang memiliki mobilitas tinggi di luar-luar daerah. Dari segi fungsional, lampu-lampu HID yang berada di atas 5.300 K seringkali membuat pengemudi mengeluhkan bahwa sorot cahaya lampunya sama sekali tidak membantu di tengah malam berkabut ataupun hujan sekalipun, dan hal ini juga sangat membahayakan kita sebagai pengendara mobil.

Pertanyaan yang paling sering diajukan kepada saya adalah, " Merk apa yang bagus untuk lampu HID ?"

Jujur, penilaian yang bisa saya berikan tentu saja, "ada harga tentu ada kualitas."Setelah mencoba-coba berbagai macam HID dan mencari fakta tentang lampu HID yang beredar di pasaran, ternyata hampir sebagian besar HID adalah produk China dengan embel-embel lisensi negara-negara maju seperti german, usa, dll.

Yang telah membedakan produk mahal dan murah adalah kualitas ballast dan kualitas bohlam lampu HID itu sendiri. Produk yang terlampau murah seringkali ballast cepat mengalami kerusakan sehingga lampu HID mati dalam waktu dekat, memang semua HID rata-rata telah memberikan garansi tetapi bila mengalami mati lampu di malam hari dan harus bolak balik untuk klaim pemasangan, bukankah itu merepotkan ? Kualitas bohlam juga mempengaruhi karena seringkali lampu HID berubah derajat Kelvin nya setelah pemakaian dalam beberapa bulan sehingga cahaya yang dikeluarkan oleh lampu HID menjadi tidak sama dengan pemasangan pertama kali.

Setelah membahas kelemahan dan kelebihan lampu HID, semoga teman-teman sekalian tidak merasa kebinggungan di dalam menentukan apakah perlu menggunakan HID atau tidak, dan lampu HID apa yang sebaiknya digunakan di mobil toyota kesayangannya. Sebenarnya pemasangan aksesoris pada mobil baru yang kita miliki menyebabkan beberapa kekurangan yang mungkin saja dapat berakibat fatal. (baca : kekurangan aksesoris mobil baru)

saco-indonesia.com, Hujan deras yang telah mengguyur wilayah selatan Jakarta telah membuat arus lalu lintas semrawut. Kemacetan

saco-indonesia.com, Hujan deras yang telah mengguyur wilayah selatan Jakarta telah membuat arus lalu lintas semrawut. Kemacetan tak hanya terjadi di jalan utama saja namun juga berimbas ke jalur alternatif menuju Jakarta.

Seperti yang telah terjadi di Jalan Karang Tengah, Lebak Bulus Jakarta Selatan. Jalur yang biasa digunakan sebagai jalan alternatif warga yang ingin ke wilayah selatan Jakarta ini juga macet parah.

Bahkan, kendaraan roda empat yang telah melintas di wilayah itu stuck selama dua jam. Kondisi cuaca di wilayah itu yang gerimis kian telah menambah acakadutnya jalanan ibukota di pagi ini.

"Saya juga sudah dua jam stuck di sini. Saya mau ke arah Pondok Labu," kata seorang pengendara Eko kepada Okezone, selasa (4/2/2014).

Namun untuk jalur sebaliknya terlihat lancar. Sayangnya kepadatan kendaraan yang telah melintas di Karang Tengah tidak dibarengi dengan petugas pengatur lalu lintas. Sehingga jalanan semakin mampet.

Saat ini hujan juga telah mengguyur wilayah Sawangan, Depok. Akibatnya, Jalan Raya Sawangan yang biasa digunakan warga dari arah Parung dan Sawangan untuk menuju Jakarta juga menjadi tersendat.


Editor : Dian Sukmawati

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

WASHINGTON — The last three men to win the Republican nomination have been the prosperous son of a president (George W. Bush), a senator who could not recall how many homes his family owned (John McCain of Arizona; it was seven) and a private equity executive worth an estimated $200 million (Mitt Romney).

The candidates hoping to be the party’s nominee in 2016 are trying to create a very different set of associations. On Sunday, Ben Carson, a retired neurosurgeon, joined the presidential field.

Senator Marco Rubio of Florida praises his parents, a bartender and a Kmart stock clerk, as he urges audiences not to forget “the workers in our hotel kitchens, the landscaping crews in our neighborhoods, the late-night janitorial staff that clean our offices.”

Gov. Scott Walker of Wisconsin, a preacher’s son, posts on Twitter about his ham-and-cheese sandwiches and boasts of his coupon-clipping frugality. His $1 Kohl’s sweater has become a campaign celebrity in its own right.

Senator Rand Paul of Kentucky laments the existence of “two Americas,” borrowing the Rev. Dr. Martin Luther King Jr.’s phrase to describe economically and racially troubled communities like Ferguson, Mo., and Detroit.

Photo
 
Senator Marco Rubio of Florida praises his parents, a bartender and a Kmart stock clerk. Credit Joe Raedle/Getty Images

“Some say, ‘But Democrats care more about the poor,’ ” Mr. Paul likes to say. “If that’s true, why is black unemployment still twice white unemployment? Why has household income declined by $3,500 over the past six years?”

We are in the midst of the Empathy Primary — the rhetorical battleground shaping the Republican presidential field of 2016.

Harmed by the perception that they favor the wealthy at the expense of middle-of-the-road Americans, the party’s contenders are each trying their hardest to get across what the elder George Bush once inelegantly told recession-battered voters in 1992: “Message: I care.”

Their ability to do so — less bluntly, more sincerely — could prove decisive in an election year when power, privilege and family connections will loom large for both parties.

Advertisement

Questions of understanding and compassion cost Republicans in the last election. Mr. Romney, who memorably dismissed the “47 percent” of Americans as freeloaders, lost to President Obama by 63 percentage points among voters who cast their ballots for the candidate who “cares about people like me,” according to exit polls.

And a Pew poll from February showed that people still believe Republicans are indifferent to working Americans: 54 percent said the Republican Party does not care about the middle class.

That taint of callousness explains why Senator Ted Cruz of Texas declared last week that Republicans “are and should be the party of the 47 percent” — and why another son of a president, Jeb Bush, has made economic opportunity the centerpiece of his message.

With his pedigree and considerable wealth — since he left the Florida governor’s office almost a decade ago he has earned millions of dollars sitting on corporate boards and advising banks — Mr. Bush probably has the most complicated task making the argument to voters that he understands their concerns.

On a visit last week to Puerto Rico, Mr. Bush sounded every bit the populist, railing against “elites” who have stifled economic growth and innovation. In the kind of economy he envisions leading, he said: “We wouldn’t have the middle being squeezed. People in poverty would have a chance to rise up. And the social strains that exist — because the haves and have-nots is the big debate in our country today — would subside.”

Continue reading the main story
 

Who Is Running for President (and Who’s Not)?

Republicans’ emphasis on poorer and working-class Americans now represents a shift from the party’s longstanding focus on business owners and “job creators” as the drivers of economic opportunity.

This is intentional, Republican operatives said.

In the last presidential election, Republicans rushed to defend business owners against what they saw as hostility by Democrats to successful, wealthy entrepreneurs.

“Part of what you had was a reaction to the Democrats’ dehumanization of business owners: ‘Oh, you think you started your plumbing company? No you didn’t,’ ” said Grover Norquist, the conservative activist and president of Americans for Tax Reform.

But now, Mr. Norquist said, Republicans should move past that. “Focus on the people in the room who know someone who couldn’t get a job, or a promotion, or a raise because taxes are too high or regulations eat up companies’ time,” he said. “The rich guy can take care of himself.”

Democrats argue that the public will ultimately see through such an approach because Republican positions like opposing a minimum-wage increase and giving private banks a larger role in student loans would hurt working Americans.

“If Republican candidates are just repeating the same tired policies, I’m not sure that smiling while saying it is going to be enough,” said Guy Cecil, a Democratic strategist who is joining a “super PAC” working on behalf of Hillary Rodham Clinton.

Republicans have already attacked Mrs. Clinton over the wealth and power she and her husband have accumulated, caricaturing her as an out-of-touch multimillionaire who earns hundreds of thousands of dollars per speech and has not driven a car since 1996.

Mr. Walker hit this theme recently on Fox News, pointing to Mrs. Clinton’s lucrative book deals and her multiple residences. “This is not someone who is connected with everyday Americans,” he said. His own net worth, according to The Milwaukee Journal Sentinel, is less than a half-million dollars; Mr. Walker also owes tens of thousands of dollars on his credit cards.

Continue reading the main story

But showing off a cheap sweater or boasting of a bootstraps family background not only helps draw a contrast with Mrs. Clinton’s latter-day affluence, it is also an implicit argument against Mr. Bush.

Mr. Walker, who featured a 1998 Saturn with more than 100,000 miles on the odometer in a 2010 campaign ad during his first run for governor, likes to talk about flipping burgers at McDonald’s as a young person. His mother, he has said, grew up on a farm with no indoor plumbing until she was in high school.

Mr. Rubio, among the least wealthy members of the Senate, with an estimated net worth of around a half-million dollars, uses his working-class upbringing as evidence of the “exceptionalism” of America, “where even the son of a bartender and a maid can have the same dreams and the same future as those who come from power and privilege.”

Mr. Cruz alludes to his family’s dysfunction — his parents, he says, were heavy drinkers — and recounts his father’s tale of fleeing Cuba with $100 sewn into his underwear.

Gov. Chris Christie of New Jersey notes that his father paid his way through college working nights at an ice cream plant.

But sometimes the attempts at projecting authenticity can seem forced. Mr. Christie recently found himself on the defensive after telling a New Hampshire audience, “I don’t consider myself a wealthy man.” Tax returns showed that he and his wife, a longtime Wall Street executive, earned nearly $700,000 in 2013.

The story of success against the odds is a political classic, even if it is one the Republican Party has not been able to tell for a long time. Ronald Reagan liked to say that while he had not been born on the wrong side of the tracks, he could always hear the whistle. Richard Nixon was fond of reminding voters how he was born in a house his father had built.

“Probably the idea that is most attractive to an average voter, and an idea that both Republicans and Democrats try to craft into their messages, is this idea that you can rise from nothing,” said Charles C. W. Cooke, a writer for National Review.

There is a certain delight Republicans take in turning that message to their advantage now.

“That’s what Obama did with Hillary,” Mr. Cooke said. “He acknowledged it openly: ‘This is ridiculous. Look at me, this one-term senator with dark skin and all of America’s unsolved racial problems, running against the wife of the last Democratic president.”

Artikel lainnya »