Anda Mencari Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Kerinci Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Kerinci Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Kerinci

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Kerinci

Jasa Konsultasi ISO 9001 Terbaik dan Berpengalaman di Pacitan

Jasa Konsultasi ISO 9001 Terbaik dan Berpengalaman di Pacitan | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Konsultasi ISO 9001 Terbaik dan Berpengalaman di Pacitan

saco-indonesia.com, Ketika anda sudah mempersiapkan dana untuk dapat berbelanja baju, mungkin anda juga sering mengalami kesulit

saco-indonesia.com, Ketika anda sudah mempersiapkan dana untuk dapat berbelanja baju, mungkin anda juga sering mengalami kesulitan ketika harus menentukan pilihan. Mungkin tips dalam membeli baju yang baik akan bisa memberikan pencerahan kepada anda. Tak heran jika semua dipersiapkan dengan sangat matang, hasilnya pun juga begitu maksimal dan juga terlihat pas dipandang mata.

Secara umum, orang juga akan sangat mudah terpikat dengan baju model terkini, yang sedang nge-trend. Sebenarnya hal itu juga tidaklah salah namun anda juga harus mempertimbangkan aspek lainnya. jangan sampai anda membeli dengan harga yang terbiang mahal tetapi hanya penyesalan yang anda dapatkan. Mungkin berbagai tips juga sudah sering anda temukan. tetapi apa salahnya jika anda menyimak beberapa tips membeli baju ini.

Berikut beberapa tips membeli baju yang baik :

tips membeli baju
1. Perhatikan bentuk tubuh anda.
Setiap orang pasti mempunyai bentuk tubuh yang berbeda-beda. Jadi, sesuaikan antara baju yang anda beli dengan bentuk tubuh anda. Mana yang paling pas dengan bentuk tubuh anda, itulah yang aling penting.

2. Cobalah
Anda juga bisa mencoba dahulu ketika anda sedang memilih-milih baju. Perhatikan dengan seksama, apakah memang sudah pas dan benar-benar sesuai dengan bentuk tubuh anda seperti tips nomor 1 diatas.

3. Tidak harus mahal
Anda juga tidak harus membeli baju dengan harga yang mahal kok. Sudah terbukti banyak baju yang harganya biasa-biasa saja tetapi sangat nyaman dan terlihat sangat elegan ketika dipakai. Jika anda memang telah mempunyai dana yang berlebih, ya silahkan saja membeli yang berharga mahal.

4. Mencari referensi
Anda juga bisa mencari referensi dulu di internet atau media lainnya. Banyak yang telah menyediakan info mengenai baju. Tujuannya adalah agar anda sudah mempunyai gambaran mengenai baju incaran anda ketika anda meninggalkan rumah untuk membeli baju.

5. Jangan tergesa-gesa
Lebih baik sabar dan santai saja ketika anda sedang memilih baju.

6. Pendapat orang lain
Anda juga bisa mengajak seseorang dan menanyakan kira-kira baju apa yang paling cocok kepada orang lain ketika anda membeli baju, misalnya saja anda mengajak  orang tua, teman, pacar bahkan designer baju sekalipun. Orang lain bisa dengan mudah menilai apakah baju tersebut cocok dan pas untuk anda.

7. Teliti sebelum membeli
Anda juga harus teliti ketika anda membeli baju. Apakah sudah benar-benar tidak ditemukan cacat pada baju yang akan anda beli.

8. Online
Jika anda memang tergolong orang yang super sibuk, anda juga bisa memanfaatkan internet untuk dapat membeli baju. Untuk saat ini, toko baju online sangat mudah ditemukan. Tentu saja anda harus lebih ekstra hati-hati dan benar-benar memperhatikan kualitas dan kredibilitas toko baju online tersebut agar anda tidak tertipu dan menyesal kemudian.

Mungkin itulah beberapa tips membeli baju yang baik yang mungkin bermanfaat bagi anda. Rambut juga berpengaruh dalam penampilan anda lho. Jadi, ketika pakaian anda sudah pas dan bagus, rambut juga harus indah.


Editor : Dian Sukmawati

Jun 18 Kalibrasi Ulang Baterai iPhone Smartphone makin canggih dan kinclong. Dan juga makin tipis. Untuk bisa setipis yang


Jun
18
Kalibrasi Ulang Baterai iPhone
Smartphone makin canggih dan kinclong. Dan juga makin tipis. Untuk bisa setipis yang kamu lihat sekarang, beberapa smartphone mesti bikin pengorbanan: tidak ada lagi tutup baterai, alias baterai tidak bisa diganti. Kebiasaan untuk tidak bisa mengganti baterai, seperti kebiasaan lain-lain, dimulai dari Apple. Kawanku, baterai iPhone tak bisa diganti, sekarang beberapa smartphone lain pun menyusul memasukan baterai kedalam cangkang yang tidak gampang dibuka, diantaranya adalah HTC One, HTC One X, Nokia Lumia 900 series, Sony Xperia Z, Motorola Droid Razr Maxx.

 

Masalahnya sekarang adalah, gimana kalau baterai iPhone kamu mulai menunjukkan sedikit attitude seperti yang dialami dua orang teman saya? Yup, iPhone juga bisa punya attitude. Yang mereka alami adalah iPhone mereka tiba-tiba mati saat indikator batere masih 35% (dan seorang yang lainnya bahkan 80%).

Kalau kamu lagi mencari gimana caranya biar batere iPhone awet dipake, nanti saya bahas di artikel lain, sementara ini artikel ini hanya akan membahas kasus seperti yang dialami dua kawan tadi.

Yang kedua kawan tadi butuhkan adalah kalibrasi ulang batere. Intinya adalah mensikronkan kembali antara kapasitas real batere dan indikatornya. Caranya adalah sebagai berikut:

1. Gunakan iPhone sampai batere habis dan iPhone mati dengan sendirinya.
2. Charge iPhone sampai penuh 100% tanpa terputus. Ini penting, jangan sampai putus.
3. Setelah penuh, lakukan reset dengan cara tekan dan tahan tombol sleep dan tombol home secara berbarengan hingga muncul logo Apple (acuhkan tanda Swipe to Power Off").
4. Gunakanlah dengan normal hingga baterai habis, perhatikan indikator baterai, seharusnya iPhone akan mati pada saat baterai mencapai antara 0% hingga 3%.

Kalau baterai iPhone anda tidak memperbaiki attitude nya tersebut, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan upgrade ke iPhone gerenasi lebih lanjut misalnya iPhone 5. Toh iPhone 5 memang jauh lebih kaya feature, baterai tahan lama, lebih enak dipakai karena layar gede dan ringan, dll. Untuk seluruh model iPhone, silakan cek harga iPhone di sini.

Mungkin PeEr selanjutnya adalah mengamati berapa lama sih sebenernya batere iPhone kamu bertahan dalam satu kali charge, sehari? setengah hari? dua hari? Walaupun memang umur batere sangat tergantung pemakaian kamu, kamu tetap bisa sedikit menghemat batere dengan cara-cara tertentu. Hal ini kita bahas lain waktu.

Kebiasaan tidak bisa ganti baterai sekarang tidak hanya sebatas pada smartphone doang. MacBook Air dan MacBook Pro sekarang pun baterai nya non-replaceable. Dan kelihatannya beberapa ultrabook lain-lain dari Lenovo, Asus dan Acer pun mulai menggunakan trik ini.

Mr. Tepper was not a musical child and had no formal training, but he grew up to write both lyrics and tunes, trading off duties with the other member of the team, Roy C. Bennett.

Even as a high school student, Dave Goldberg was urging female classmates to speak up. As a young dot-com executive, he had one girlfriend after another, but fell hard for a driven friend named Sheryl Sandberg, pining after her for years. After they wed, Mr. Goldberg pushed her to negotiate hard for high compensation and arranged his schedule so that he could be home with their children when she was traveling for work.

Mr. Goldberg, who died unexpectedly on Friday, was a genial, 47-year-old Silicon Valley entrepreneur who built his latest company, SurveyMonkey, from a modest enterprise to one recently valued by investors at $2 billion. But he was also perhaps the signature male feminist of his era: the first major chief executive in memory to spur his wife to become as successful in business as he was, and an essential figure in “Lean In,” Ms. Sandberg’s blockbuster guide to female achievement.

Over the weekend, even strangers were shocked at his death, both because of his relatively young age and because they knew of him as the living, breathing, car-pooling center of a new philosophy of two-career marriage.

“They were very much the role models for what this next generation wants to grapple with,” said Debora L. Spar, the president of Barnard College. In a 2011 commencement speech there, Ms. Sandberg told the graduates that whom they married would be their most important career decision.

In the play “The Heidi Chronicles,” revived on Broadway this spring, a male character who is the founder of a media company says that “I don’t want to come home to an A-plus,” explaining that his ambitions require him to marry an unthreatening helpmeet. Mr. Goldberg grew up to hold the opposite view, starting with his upbringing in progressive Minneapolis circles where “there was woman power in every aspect of our lives,” Jeffrey Dachis, a childhood friend, said in an interview.

The Goldberg parents read “The Feminine Mystique” together — in fact, Mr. Goldberg’s father introduced it to his wife, according to Ms. Sandberg’s book. In 1976, Paula Goldberg helped found a nonprofit to aid children with disabilities. Her husband, Mel, a law professor who taught at night, made the family breakfast at home.

Later, when Dave Goldberg was in high school and his prom date, Jill Chessen, stayed silent in a politics class, he chastised her afterward. He said, “You need to speak up,” Ms. Chessen recalled in an interview. “They need to hear your voice.”

Years later, when Karin Gilford, an early employee at Launch Media, Mr. Goldberg’s digital music company, became a mother, he knew exactly what to do. He kept giving her challenging assignments, she recalled, but also let her work from home one day a week. After Yahoo acquired Launch, Mr. Goldberg became known for distributing roses to all the women in the office on Valentine’s Day.

Ms. Sandberg, who often describes herself as bossy-in-a-good-way, enchanted him when they became friendly in the mid-1990s. He “was smitten with her,” Ms. Chessen remembered. Ms. Sandberg was dating someone else, but Mr. Goldberg still hung around, even helping her and her then-boyfriend move, recalled Bob Roback, a friend and co-founder of Launch. When they finally married in 2004, friends remember thinking how similar the two were, and that the qualities that might have made Ms. Sandberg intimidating to some men drew Mr. Goldberg to her even more.

Over the next decade, Mr. Goldberg and Ms. Sandberg pioneered new ways of capturing information online, had a son and then a daughter, became immensely wealthy, and hashed out their who-does-what-in-this-marriage issues. Mr. Goldberg’s commute from the Bay Area to Los Angeles became a strain, so he relocated, later joking that he “lost the coin flip” of where they would live. He paid the bills, she planned the birthday parties, and both often left their offices at 5:30 so they could eat dinner with their children before resuming work afterward.

Friends in Silicon Valley say they were careful to conduct their careers separately, politely refusing when outsiders would ask one about the other’s work: Ms. Sandberg’s role building Facebook into an information and advertising powerhouse, and Mr. Goldberg at SurveyMonkey, which made polling faster and cheaper. But privately, their work was intertwined. He often began statements to his team with the phrase “Well, Sheryl said” sharing her business advice. He counseled her, too, starting with her salary negotiations with Mark Zuckerberg.

“I wanted Mark to really feel he stretched to get Sheryl, because she was worth it,” Mr. Goldberg explained in a 2013 “60 Minutes” interview, his Minnesota accent and his smile intact as he offered a rare peek of the intersection of marriage and money at the top of corporate life.

 

 

While his wife grew increasingly outspoken about women’s advancement, Mr. Goldberg quietly advised the men in the office on family and partnership matters, an associate said. Six out of 16 members of SurveyMonkey’s management team are female, an almost unheard-of ratio among Silicon Valley “unicorns,” or companies valued at over $1 billion.

When Mellody Hobson, a friend and finance executive, wrote a chapter of “Lean In” about women of color for the college edition of the book, Mr. Goldberg gave her feedback on the draft, a clue to his deep involvement. He joked with Ms. Hobson that she was too long-winded, like Ms. Sandberg, but aside from that, he said he loved the chapter, she said in an interview.

By then, Mr. Goldberg was a figure of fascination who inspired a “where can I get one of those?” reaction among many of the women who had read the best seller “Lean In.” Some lamented that Ms. Sandberg’s advice hinged too much on marrying a Dave Goldberg, who was humble enough to plan around his wife, attentive enough to worry about which shoes his young daughter would wear, and rich enough to help pay for the help that made the family’s balancing act manageable.

Now that he is gone, and Ms. Sandberg goes from being half of a celebrated partnership to perhaps the business world’s most prominent single mother, the pages of “Lean In” carry a new sting of loss.

“We are never at 50-50 at any given moment — perfect equality is hard to define or sustain — but we allow the pendulum to swing back and forth between us,” she wrote in 2013, adding that they were looking forward to raising teenagers together.

“Fortunately, I have Dave to figure it out with me,” she wrote.

Artikel lainnya »