Anda Mencari Konsultan ISO 9001 Murah di Bekasi Timur Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Konsultan ISO 9001 Murah di Bekasi Timur Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Konsultan ISO 9001 Murah di Bekasi Timur

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Konsultan ISO 9001 Murah di Bekasi Timur

Jasa Pelatihan ISO 9001 di Ogan Ilir

Jasa Pelatihan ISO 9001 di Ogan Ilir | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Pelatihan ISO 9001 di Ogan Ilir

saco-indonesia.com, Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi telah kembali memeriksa Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi, Janed

saco-indonesia.com, Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi telah kembali memeriksa Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi, Janedri Mahili Gaffar, dalam kasus dugaan suap pengurusan sengketa pilkada Kabupaten Lebak di Mahkamah Konstitusi. Janedri juga mengaku diperiksa sebagai saksi buat mantan Ketua MK, Akil Mochtar, dan menampik mengenal orang kepercayaan Akil, Mochtar Ependy.

"Terkait Pak Akil Mochtar. Nanti kita lihat. Ini untuk Lebak," kata Janedri kepada awak media di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (24/12).

Janedri juga menyangkal mengenal Mochtar Ependy. Dia juga menampik tidak pernah tahu kalau Mochtar kabarnya kerap bolak-balik ke MK menemui Akil. Mochtar disebut-sebut sebagai orang yang turut aktif dalam membantu pencucian uang Akil. Dalam kasus dugaan suap, KPK juga akan memeriksa pegawai PT Peraga Lambang Sejahtera, Aditya Mun'im, sebagai saksi.

Hari ini, KPK juga akan mengusut dugaan pencucian uang Akil. Tiga saksi akan dijadwalkan diperiksa dalam perkara itu. Mereka adalah dua pejabat lelang pada Balai Lelang JBA, yakni Ende Mirawan dan Ganda Purba, serta General Manager Balai Lelang Serasi, Jacob Anthonius Margaretha.

Dalam perkara dugaan suap sengketa pilkada Lebak tersebut , KPK hari ini juga akan memeriksa Akil Mochtar serta adik Ratu Atut, Tubagus Chaery Wardhana Chasan alias Wawan. Akil akan diperiksa sebagai tersangka, sedangkan Wawan sebagai saksi. Ada kemungkinan Janedri bakal dikonfrontir dengan Akil dalam pemeriksaan hari ini.


Editor ; Dian Sukmawati

Ingin ke Mars? Kini waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan bahkan lebih singkat dari waktu yang mungkin dibutuhkan untuk menemukan vaksin atau obat dari beragam penyakit. Hanya 20 tahun!

WASHINGTON, Saco-Indonesia.com - Ingin ke Mars? Kini waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan bahkan lebih singkat dari waktu yang mungkin dibutuhkan untuk menemukan vaksin atau obat dari beragam penyakit. Hanya 20 tahun!

Sebuah rencana untuk menerbangkan suami istri ke Mars lewat program Inspiration Mars ditawarkan oleh miliuner Dennis Tito. Sementara, misi Mars One yang lebih ekstrem berencana memberangkatkan manusia  ke Mars tanpa kembali ke Bumi dalam satu dekade dari sekarang.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dalam pernyataannya seperti dikutip AFP, Senin (6/5/2013), mengatakan bahwa sangat mungkin bagi manusia untuk mendarat di Mars. Waktunya hanya 20 tahun dari sekarang. Alias, pada tahun 2033, manusia sudah bisa mendarat di Mars.

Mulai Senin kemarin, beberapa nama besar dalam dunia keantariksaan membahas kemungkinan manusia mendarat dan mengolonisasi Mars dalam konferensi yang akan berlangsung tiga hari. Peluang serta tantangan yang dihadapi dibahas.

Berbagai pihak mengatakan, tantangan ke Mars bukanlah masalah teknologi, tetapi masalah uang. NASA saja yang berada di bawah pengelolaan negara maju mengalami krisis keuangan karena hanya mendapatkan 0,5 persen dari anggaran negara. Bagaimana dengan negara seperti Indonesia?

"Jika kita memulai dari sekarang, sangat mungkin mendarat di Mars dalam 20 tahun. Ini tidak butuh keajaiban, ini membutuhkan uang dan rencana untuk mengatasi tantangan dalam rekayasa teknologi," kata Scott Hubbard, pakar dari Stanford University.

Hubbard menuturkan, salah satu tantangan terbesar adalah membawa beban hingga 30-40 ton ke Mars. Beban itu adalah beban minimal yang dibutuhkan untuk membangun habitat di Mars. Tantangan lain adalah menyediakan bahan bakar yang cukup untuk ke Mars.

NASA sendiri kini tengah mengembangkan Space Launch System dan kapsul Orion untuk mendukung perjalanan rut Hubbard, bahan bakar nuklir dibutuhkan untuk mendukung daya dorong dan menyingkat waktu perjalanan hingga 3 bulan.

Selain masalah teknologi, tantangan lain dalam perjalanan ke Mars juga harus dipecahkan. Dampak radiasi sendiri kini belum dipahami betul akibatnya bagi kesehatan manusia. Salah satu yang telah diprediksi, radiasi bisa memicu kanker. Perlu dipahami efeknya bagi sistem saraf pusat atau otak.

Tantangan lain adalah masalah fisiologi, seperti berkurangnya massa jenis tulang dan otot. Lalu juga masalah psikologis yang mencakup perasaan kesendirian menjalani misi hingga tinggal di tempat yang sama sekali baru. Jika tantangan itu diatasi, mendarat di Mars bukanlah tak mungkin.

Sumber :AFP/Kompas.com
Editor :Maulana Lee

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

A former member of the Boston Symphony Orchestra, Mr. Smedvig helped found the wide-ranging Empire Brass quintet.

Artikel lainnya »