Anda Mencari Layanan Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Jawa Timur Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Layanan Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Jawa Timur Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Layanan Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Jawa Timur

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Layanan Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Jawa Timur

Jasa Sertifikasi ISO Terbaik dan Berpengalaman di Sulawesi Tengah

Jasa Sertifikasi ISO Terbaik dan Berpengalaman di Sulawesi Tengah | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Sertifikasi ISO Terbaik dan Berpengalaman di Sulawesi Tengah

Miris Banget ,Karena Tumor Ganas, Pria ini tidak memiliki WAJAH

Miris Banget ,Karena Tumor Ganas, Pria ini tidak memiliki WAJAH


Seorang pemuda yang pertama kalinya menceritakan kehidupannya ‘tanpa muka’ dan bagaimana dia begitu takut keadaannya itu diwarisi oleh anak yang masih dalam kandungan isterinya. Mohammad Latif Khatana, 32, dari Kashmir, India, tidak bisa melihat atau bekerja karena mukanya ditutupi lapisan ketumbuhan daging. Karena kehebohannya, bahkan ada orang yang sanggup meludah ketika mereka melalui di depannya,(benar2 orang tak berperasaan).

Dia kini begitu gembira selepas wanita yang dikawininya hamil tujuh bulan.Tetapi dia begitu bimbang, anak yang akan dilahirkan itu akan berwajah sepertinya.“Saya tidak sabar untuk menjadi bapak dan memiliki sedikit kebahagian dalam kehidupan saya. Tetapi saya senantiasa bimbang dan berdoa setiap hari supaya anak saya tidak dilahirkan seperti saya,” katanya. Latif yang tinggal bersama isteri,Salima, 25, di kawasan pergunungan di Tuli Bana di Jammu dan Kashmir, pergi ke Srinagar selama empat bulan dalam setahun untuk meminta sedekah
Foto: Miris Banget 

,Karena Tumor Ganas, Pria ini tidak memiliki WAJAH
Seorang pemuda yang pertama kalinya 

menceritakan kehidupannya ‘tanpa muka’ dan bagaimana dia begitu takut keadaannya itu 

diwarisi oleh anak yang masih dalam kandungan isterinya. Mohammad Latif Khatana, 32, dari 

Kashmir, India, tidak bisa melihat atau bekerja karena mukanya ditutupi lapisan ketumbuhan 

daging. Karena kehebohannya, bahkan ada orang yang sanggup meludah ketika mereka melalui di 

depannya,(benar2 orang tak berperasaan).
Dia kini begitu gembira selepas wanita yang 

dikawininya hamil tujuh bulan.Tetapi dia begitu bimbang, anak yang akan dilahirkan itu akan 

berwajah sepertinya.“Saya tidak sabar untuk menjadi bapak dan memiliki sedikit kebahagian 

dalam kehidupan saya. Tetapi saya senantiasa bimbang dan berdoa setiap hari supaya anak saya 

tidak dilahirkan seperti saya,” katanya. Latif yang tinggal bersama isteri,Salima, 25, di 

kawasan pergunungan di Tuli Bana di Jammu dan Kashmir, pergi ke Srinagar selama empat bulan dalam 

setahun untuk meminta sedekah.
Gabung jg di Spot Line Misteri Dunia Fenomenal
LIKE  &  

SHARE
#07uni10#

Memasuki kota Makkah dan mengerjakan ibadah di Masjidil Haram sama halnya dengan memasuki alam kedamaian yang penuh ketentraman.

Memasuki kota Makkah dan mengerjakan ibadah di Masjidil Haram sama halnya dengan memasuki alam kedamaian yang penuh ketentraman. Di tempat itu Allah SWT mencurahkan segala rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Tidak salah kemudian jika para jamaah haji yang sudah pulang ke kampung halamannya merindukan kembali kota Makkah pada tahun-tahun berikutnya.

Bisa dibayangkan, tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang menjadi lokasi berkumpulnya umat sedunia. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan membawa satu keimanan yang sama dan melakukan ritual- ritual yang sama.

Jutaan umat muslim di Makkah dan Madinah merasa bersaudara. Persaudaraan mereka diikat oleh kesamaan keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah dan Muhammad SAW adalah Utusan-Nya.

Sebagai saudara, tidak ada sikap yang paling patut untuk ditunjukkan selain sikap saling menyayangi. Bagaimana mereka tidak saling menyayangi jika Allah SWT melarang perkataan kotor dan perbuatan keji selama mereka melaksanakan ibadah haji atau umrah? Kebencian sebagai lawan dari cinta kasih sama sekali dilarang di tanah yang diberkati ini.

Sumber : Republika.co.id

Baca Artikel Lainnya : KETIKA THAWAF

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Mr. Paczynski was one of the concentration camp’s longest surviving inmates and served as the personal barber to its Nazi commandant Rudolf Höss.

Artikel lainnya »