Anda Mencari Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Yalimo Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Yalimo Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Yalimo

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Yalimo

Jasa Konsultan 5s di Lampung Selatan

Jasa Konsultan 5s di Lampung Selatan | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Konsultan 5s di Lampung Selatan

saco-indonesia.com, Terpidana kasus narkotika asal Australia, Schapelle Leigh Corby telah mendapat pembebasan bersyarat. Pembeba

saco-indonesia.com, Terpidana kasus narkotika asal Australia, Schapelle Leigh Corby telah mendapat pembebasan bersyarat. Pembebasan bersyarat tersebut telah berdasarkan telaah dari Tim Pengamat Pemasyarakatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Sesepuh Polri Komjen (purn) Noegroho Djajusman juga berharap agar pembebasan bersyarat Corby tak dipolitisir oleh pihak-pihak tertentu.

"Saya harap pembebasan bersyarat Corby jangan 'lari' ke politik," kata Noegroho, saat berbincang dengan Okezone, Senin (10/2/2014).

Dia juga menambahkan bahwa jika memang telah diputuskan pembebasan bersyarat, lantaran dianggap telah memenuhi persyaratan substantif dan administratif, maka itu adalah hak dari seorang narapidana.

"Itu juga sudah hak dari Corby sebagai orang narapidana. Karena sudah memenuhi syarat karena berkelakuan baik dan dibuktikan dengan tidak adanya pelanggaran tata tertib dan hukuman disiplin dalam lapas,"ungkapnya.

Saat ini kontroversi pembebasan bersyarat Corby berpotensi dapat membunuh karakternya. Sebab banyak pihak yang berwacana dengan sudut pandang politik. "Seharusnya di negara hukum, kita bertindak sesuai hukum saja. Jangan sampai hak ini mencoreng nama Indonesia di luar negeri," terangnya.

Mantan Kapolda Metro Jaya ini juga menapik anggapan bahwa pembebasan bersyarat Corby akan dapat mencoreng citra pemberantasan narkoba di Indonesia. "Tidak akan seperti itu. Karena kita tahu bahwa pemerintah saat ini tengah berusaha untuk dapat menekan peredaran narkoba di Indonesia. Mulai dengan cara mencegah masuknya narkoba, hingga melakukan sosialisasi bahaya narkoba. Di dalam Undang-Undang juga sudah jelas tentang hukuman yang diberikan sudah tegas,"bebernya.

Jangan sampai, lanjut Noegroho, saat keputusan telah dikeluarkan kemudian malah merugikan Corby. Sebab wacana yang muncul seolah-olah membunuh karakter Corby. "Pro dan kontra wajar, namun seharusnya melihat juga hak azasi Corby, sebagai seorang terpidana yang telah mendapatkan pembebasan bersyarat. Jangan sampai malah jadi character assassination untuk Corby," bebernya.

Dia juga berharap agar proses hukum yang telah dijalani tak merugikan Corby. "Kalau memang sudah ada keputusan pembebasan bersyarat keluarkan. Jangan dirugikan narapidananya,"tutupnya.


Editor : Dian Sukmawati

Dewi Persik juga merupakan salah satu artis yang mengaku kerap digoda pejabat. Namun Depe mengaku punya cara sendiri menolak godaan pejabat genit yang sering menghubunginya. "Cara menolaknya cukup kalau handphone saya tidak pernah angkat. Kalau SMS, saya kasih ke manajer saya. Kalau kepepet misal nelepon terus, misal ada ancaman, itu saya langsung bales. Alasan aja," katanya ditemui di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013) malam. "Akhirnya lama-lama kalau gitu kan bisa berpikir 'Wah nggak bisa nih dapetin Dewi Persik'," lanjutnya. Pemilik nama asli Dewi Murya Agung itu mengatakan, sudah sangat sering pria-pria berkedudukan mengajaknya berkencan atau sekadar menggoda. Namun ia mengaku selalu menolak.

Dewi Persik juga merupakan salah satu artis yang mengaku kerap digoda pejabat. Namun Depe mengaku punya cara sendiri menolak godaan pejabat genit yang sering menghubunginya.

"Cara menolaknya cukup kalau handphone saya tidak pernah angkat. Kalau SMS, saya kasih ke manajer saya. Kalau kepepet misal nelepon terus, misal ada ancaman, itu saya langsung bales. Alasan aja," katanya ditemui di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (20/5/2013) malam.

"Akhirnya lama-lama kalau gitu kan bisa berpikir 'Wah nggak bisa nih dapetin Dewi Persik'," lanjutnya.

Pemilik nama asli Dewi Murya Agung itu mengatakan, sudah sangat sering pria-pria berkedudukan mengajaknya berkencan atau sekadar menggoda. Namun ia mengaku selalu menolak.

"Bukan pernah lagi, seperti yang sudah-sudah. Sekarang zamannya cinta bertolak, infotainment yang bertindak," jelasnya.

Namun Depe mengatakan, bukan hanya pejabat yang bisa saja menggoda wanita karena memiliki kuasa dan uang. Siapapu pria memang mempunyai kesempatan untuk berbuat nakal.

"Tidak semua pejabat. Salahkan oknumnya. Tidak pejabat aja yang punya banyak wanita, pengusaha juga banyak, kiai juga banyak. Kembali ke individunya masing-masing. Kalau punya prinsip kuat dan lingkungan yg bersih itu mudah-mudahan nggak keganggu," jabarnya.

A 214-pound Queens housewife struggled with a lifelong addiction to food until she shed 72 pounds and became the public face of the worldwide weight-control empire Weight Watchers.

Though Robin and Joan Rolfs owned two rare talking dolls manufactured by Thomas Edison’s phonograph company in 1890, they did not dare play the wax cylinder records tucked inside each one.

The Rolfses, longtime collectors of Edison phonographs, knew that if they turned the cranks on the dolls’ backs, the steel phonograph needle might damage or destroy the grooves of the hollow, ring-shaped cylinder. And so for years, the dolls sat side by side inside a display cabinet, bearers of a message from the dawn of sound recording that nobody could hear.

In 1890, Edison’s dolls were a flop; production lasted only six weeks. Children found them difficult to operate and more scary than cuddly. The recordings inside, which featured snippets of nursery rhymes, wore out quickly.

Yet sound historians say the cylinders were the first entertainment records ever made, and the young girls hired to recite the rhymes were the world’s first recording artists.

Year after year, the Rolfses asked experts if there might be a safe way to play the recordings. Then a government laboratory developed a method to play fragile records without touching them.

Audio

The technique relies on a microscope to create images of the grooves in exquisite detail. A computer approximates — with great accuracy — the sounds that would have been created by a needle moving through those grooves.

In 2014, the technology was made available for the first time outside the laboratory.

“The fear all along is that we don’t want to damage these records. We don’t want to put a stylus on them,” said Jerry Fabris, the curator of the Thomas Edison Historical Park in West Orange, N.J. “Now we have the technology to play them safely.”

Last month, the Historical Park posted online three never-before-heard Edison doll recordings, including the two from the Rolfses’ collection. “There are probably more out there, and we’re hoping people will now get them digitized,” Mr. Fabris said.

The technology, which is known as Irene (Image, Reconstruct, Erase Noise, Etc.), was developed by the particle physicist Carl Haber and the engineer Earl Cornell at Lawrence Berkeley. Irene extracts sound from cylinder and disk records. It can also reconstruct audio from recordings so badly damaged they were deemed unplayable.

“We are now hearing sounds from history that I did not expect to hear in my lifetime,” Mr. Fabris said.

The Rolfses said they were not sure what to expect in August when they carefully packed their two Edison doll cylinders, still attached to their motors, and drove from their home in Hortonville, Wis., to the National Document Conservation Center in Andover, Mass. The center had recently acquired Irene technology.

Audio

Cylinders carry sound in a spiral groove cut by a phonograph recording needle that vibrates up and down, creating a surface made of tiny hills and valleys. In the Irene set-up, a microscope perched above the shaft takes thousands of high-resolution images of small sections of the grooves.

Stitched together, the images provide a topographic map of the cylinder’s surface, charting changes in depth as small as one five-hundredth the thickness of a human hair. Pitch, volume and timbre are all encoded in the hills and valleys and the speed at which the record is played.

At the conservation center, the preservation specialist Mason Vander Lugt attached one of the cylinders to the end of a rotating shaft. Huddled around a computer screen, the Rolfses first saw the wiggly waveform generated by Irene. Then came the digital audio. The words were at first indistinct, but as Mr. Lugt filtered out more of the noise, the rhyme became clearer.

“That was the Eureka moment,” Mr. Rolfs said.

In 1890, a girl in Edison’s laboratory had recited:

There was a little girl,

And she had a little curl

Audio

Right in the middle of her forehead.

When she was good,

She was very, very good.

But when she was bad, she was horrid.

Recently, the conservation center turned up another surprise.

In 2010, the Woody Guthrie Foundation received 18 oversize phonograph disks from an anonymous donor. No one knew if any of the dirt-stained recordings featured Guthrie, but Tiffany Colannino, then the foundation’s archivist, had stored them unplayed until she heard about Irene.

Last fall, the center extracted audio from one of the records, labeled “Jam Session 9” and emailed the digital file to Ms. Colannino.

“I was just sitting in my dining room, and the next thing I know, I’m hearing Woody,” she said. In between solo performances of “Ladies Auxiliary,” “Jesus Christ,” and “Dead or Alive,” Guthrie tells jokes, offers some back story, and makes the audience laugh. “It is quintessential Guthrie,” Ms. Colannino said.

The Rolfses’ dolls are back in the display cabinet in Wisconsin. But with audio stored on several computers, they now have a permanent voice.

Artikel lainnya »