Anda Mencari Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 di Lubuklinggau Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 di Lubuklinggau Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 di Lubuklinggau

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Menerima Jasa Konsultan ISO 9001 di Lubuklinggau

Jasa Training ISO 27001 di Pariaman

Jasa Training ISO 27001 di Pariaman | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Training ISO 27001 di Pariaman

saco-indonesia.com, Udara yang tidak menentu memang juga sangat mengakhawatirkan. Hujan juga bisa mendadak turun dan suhu udara

saco-indonesia.com, Udara yang tidak menentu memang juga sangat mengakhawatirkan. Hujan juga bisa mendadak turun dan suhu udara akan menjadi tinggi. Selain payung, tentunya jaket juga bisa menjadi alternatif pilihan yang sesuai. Apalagi fungsi utama jaket untuk dapat melindungi tubuh kian menarik dengan model yang sesuai tren. Di antara pilihan yang beragam, bagaimana cara untuk memilih jaket yang pas di badan? Simak tipsnya di sini, seperti dikutip dari Mag for Women.

1. Ajak Teman
Pendapat kedua selalu penting ketika kita bingung dalam menentukan pilihan. Kita juga terkadang bingung dengan beragam model yang telah ditawarkan. Nah, di sinilah fungsi teman. Teman yang baik akan selalu memberikan pendapat yang jujur dan apa adanya. Sehingga kita tidak lagi bingung dalam menentukan pilihan. Mengajak teman untuk berbelanja juga selalu menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan.

2. Jangan Tertipu
Seringkali pramuniaga juga menawarkan pilihan jaket mahal yang sebenarnya belum tentu cocok untuk kita. Jangan terpengaruh, mereka hanya menjalankan target penjualan. Model yang sedang menjadi tren bisa jadi tidak sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan Anda. Tidak mau kan memakai jaket bulu-bulu ala antartika di negara yang tropis ini?

3. Coba Dahulu
Menjatuhkan pilihan yang tepat tidak bisa terburu-buru. Ambil beberapa pilihan dan cobalah di kamar ganti. Penampilan yang sangat menarik di manekin belum tentu cocok di tubuh Anda. Dengan mencobanya terlebih dahulu Anda juga akan tahu bagian mana yang pas dan tidak.

4. Utamakan Kenyamanan
Model yang bagus juga tidak menutup kemungkinan akan bahan yang jelek. Pastikan saat mencoba Anda menggerakkan tangan, duduk dan berjalan. Jika dengan gerakan ini merasa tidak nyaman, berarti jaket ini belum tepat untuk Anda.

5. Jangan Ditumpuk
Lepaskan jaket atau jas yang Anda kenakan sebelum mencoba jaket yang ingin dibeli. Memakai pakaian yang ditumpuk dapat memperbesar ukuran tubuh Anda yang sebenarnya. Dengan begitu, Anda akan tahu ukuran mana yang pas di tubuh.


Editor : Dian Sukmawati

Ceruk peluang bisnis bagi industri sewa mobil melaju pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat di Indonesi

Ceruk peluang bisnis bagi industri sewa mobil melaju pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat di Indonesia dan telah membuat banyak perusahaan bertumbuh besar. Alat transportasi pun juga semakin dibutuhkan untuk dapat memudahkan mobilisasi demi kepentingan bisnis. "Sekarang memang banyak jasa sewa mobil yang berdiri atau tumbuh karena kebutuhan perusahaan semakin banyak. Baik itu transportasi karyawan hingga transportasi untuk mengangkut hasil tambang," Prodjo Sunarjanto, Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada (ASSA), salah satu perusahaan sewa mobil perusahaan terbesar di Indonesia.

Dia juga mengakui sebelum ini industri sewa mobil untuk perusahaan memang sudah banyak pemainnya, tetapi dengan pertumbuhan ekonomi seperti ini telah membuat bisnis semakin menggiurkan. Oleh karena itu dia berharap ekonomi Indonesia bisa terus meningkat atau setidaknya terjaga agar ritme industri sewa mobil bisa terus bertahan. "Kalau pertumbuhan ekonomi jelek atau anjlok kayak waktu tahun 1998, ya kacau. Perusahaan pada bangkrut, tingkat sewa juga menurun drastis," ungkapnya.

Pendorong lainnya adalah persentase Return on Equity (ROE) atau rasio tingkat pengembalian atas modal yang tinggi yang mengindikasikan apakah perusahaan dikelola dengan baik dan efisien. Semakin tinggi persentase artinya semakin efisien sebuah perusahaan dikelola. "Perusahaan kami tahun ini akan menargetkan ROE mencapai 18%," harapnya. Dia juga menambahkan, model bisnis sewa mobil memang padat modal sehingga modal yang dibutuhkan tinggi.

 
Industri Sewa Mobil Didukung Perbankan

 
Cara manajemen dan skema keuangan pun telah menjadi penting untuk dapat menghasilkan keuntungan. "Banyak perusahaan yang salah menerapkan hal ini karena tidak menyadari industri ini telah memiliki skema yang berbeda, jadi banyak perusahaan yang tidak berkembang atau malah bisa tutup. Salah satu skema yang biasa terjadi adalah kompetisi dengan harga murah, tidak memperhitungkan banyak hal hingga akhirnya kekurangan dana untuk berkembang," tambahnya. Oleh karena itu, ASSA memutuskan tidak akan main banting-bantingan harga.

Risiko yang tersebar juga menjadi andalan industri rental mobil untuk terus melaju pertumbuhannya. Prodjo juga menjelaskan, banyak bank yang berminat untuk memberikan pinjaman karena kemungkinan gagal bayar sangat kecil. Alasannya, industri rental mobil merupakan bisnis padat modal berupa mobil atau kendaraan lainnya. Modal ini pun bisa dicairkan dengan cara menjual sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

"Kita kan bisnis padat modal, banyak mobil yang kita miliki yang harganya minimal Rp 150 juta. Kalau ada utang atau apa-apa yang butuh uang kita tinggal jual. Apalagi kalau ekonomi sedang anjlok berarti harga mobil dan kurs dolar meningkat, artinya harga jual mobil bekas juga meningkat. Pengalaman saya waktu tahun 1998, harga mobil Rp 30 juta bisa dijual Rp 100 juta," jelasnya. Hal ini membuat risiko perusahaan tersebar sehingga cenderung lebih aman. "Oleh karena itu, bank juga selalu siap meminjamkan uangnya karena senang dengan bisnis model industri rental mobil," tegasnya.

 

Late in April, after Native American actors walked off in disgust from the set of Adam Sandler’s latest film, a western sendup that its distributor, Netflix, has defended as being equally offensive to all, a glow of pride spread through several Native American communities.

Tantoo Cardinal, a Canadian indigenous actress who played Black Shawl in “Dances With Wolves,” recalled thinking to herself, “It’s come.” Larry Sellers, who starred as Cloud Dancing in the 1990s television show “Dr. Quinn, Medicine Woman,” thought, “It’s about time.” Jesse Wente, who is Ojibwe and directs film programming at the TIFF Bell Lightbox in Toronto, found himself encouraged and surprised. There are so few film roles for indigenous actors, he said, that walking off the set of a major production showed real mettle.

But what didn’t surprise Mr. Wente was the content of the script. According to the actors who walked off the set, the film, titled “The Ridiculous Six,” included a Native American woman who passes out and is revived after white men douse her with alcohol, and another woman squatting to urinate while lighting a peace pipe. “There’s enough history at this point to have set some expectations around these sort of Hollywood depictions,” Mr. Wente said.

The walkout prompted a rhetorical “What do you expect from an Adam Sandler film?,” and a Netflix spokesman said that in the movie, blacks, Mexicans and whites were lampooned as well. But Native American actors and critics said a broader issue was at stake. While mainstream portrayals of native peoples have, Mr. Wente said, become “incrementally better” over the decades, he and others say, they remain far from accurate and reflect a lack of opportunities for Native American performers. What’s more, as Native Americans hunger for representation on screen, critics say the absence of three-dimensional portrayals has very real off-screen consequences.

“Our people are still healing from historical trauma,” said Loren Anthony, one of the actors who walked out. “Our youth are still trying to figure out who they are, where they fit in this society. Kids are killing themselves. They’re not proud of who they are.” They also don’t, he added, see themselves on prime time television or the big screen. Netflix noted while about five people walked off the “The Ridiculous Six” set, 100 or so Native American actors and extras stayed.

Advertisement

But in interviews, nearly a dozen Native American actors and film industry experts said that Mr. Sandler’s humor perpetuated decades-old negative stereotypes. Mr. Anthony said such depictions helped feed the despondency many Native Americans feel, with deadly results: Native Americans have the highest suicide rate out of all the country’s ethnicities.

The on-screen problem is twofold, Mr. Anthony and others said: There’s a paucity of roles for Native Americans — according to the Screen Actors Guild in 2008 they accounted for 0.3 percent of all on-screen parts (those figures have yet to be updated), compared to about 2 percent of the general population — and Native American actors are often perceived in a narrow way.

In his Peabody Award-winning documentary “Reel Injun,” the Cree filmmaker Neil Diamond explored Hollywood depictions of Native Americans over the years, and found they fell into a few stereotypical categories: the Noble Savage, the Drunk Indian, the Mystic, the Indian Princess, the backward tribal people futilely fighting John Wayne and manifest destiny. While the 1990 film “Dances With Wolves” won praise for depicting Native Americans as fully fleshed out human beings, not all indigenous people embraced it. It was still told, critics said, from the colonialists’ point of view. In an interview, John Trudell, a Santee Sioux writer, actor (“Thunderheart”) and the former chairman of the American Indian Movement, described the film as “a story of two white people.”

“God bless ‘Dances with Wolves,’ ” Michael Horse, who played Deputy Hawk in “Twin Peaks,” said sarcastically. “Even ‘Avatar.’ Someone’s got to come save the tribal people.”

Dan Spilo, a partner at Industry Entertainment who represents Adam Beach, one of today’s most prominent Native American actors, said while typecasting dogs many minorities, it is especially intractable when it comes to Native Americans. Casting directors, he said, rarely cast them as police officers, doctors or lawyers. “There’s the belief that the Native American character should be on reservations or riding a horse,” he said.

“We don’t see ourselves,” Mr. Horse said. “We’re still an antiquated culture to them, and to the rest of the world.”

Ms. Cardinal said she was once turned down for the role of the wife of a child-abusing cop because the filmmakers felt that casting her would somehow be “too political.”

Another sore point is the long run of white actors playing American Indians, among them Burt Lancaster, Rock Hudson, Audrey Hepburn and, more recently, Johnny Depp, whose depiction of Tonto in the 2013 film “Lone Ranger,” was viewed as racist by detractors. There are, of course, exceptions. The former A&E series “Longmire,” which, as it happens, will now be on Netflix, was roundly praised for its depiction of life on a Northern Cheyenne reservation, with Lou Diamond Phillips, who is of Cherokee descent, playing a Northern Cheyenne man.

Others also point to the success of Mr. Beach, who played a Mohawk detective in “Law & Order: Special Victims Unit” and landed a starring role in the forthcoming D C Comics picture “Suicide Squad.” Mr. Beach said he had come across insulting scripts backed by people who don’t see anything wrong with them.

“I’d rather starve than do something that is offensive to my ancestral roots,” Mr. Beach said. “But I think there will always be attempts to drawn on the weakness of native people’s struggles. The savage Indian will always be the savage Indian. The white man will always be smarter and more cunning. The cavalry will always win.”

The solution, Mr. Wente, Mr. Trudell and others said, lies in getting more stories written by and starring Native Americans. But Mr. Wente noted that while independent indigenous film has blossomed in the last two decades, mainstream depictions have yet to catch up. “You have to stop expecting for Hollywood to correct it, because there seems to be no ability or desire to correct it,” Mr. Wente said.

There have been calls to boycott Netflix but, writing for Indian Country Today Media Network, which first broke news of the walk off, the filmmaker Brian Young noted that the distributor also offered a number of films by or about Native Americans.

The furor around “The Ridiculous Six” may drive more people to see it. Then one of the questions that Mr. Trudell, echoing others, had about the film will be answered: “Who the hell laughs at this stuff?”

Mr. Miller, of the firm Weil, Gotshal & Manges, represented companies including Lehman Brothers, General Motors and American Airlines, and mentored many of the top Chapter 11 practitioners today.

Artikel lainnya »