Anda Mencari Pusat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Bantul Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Pusat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Bantul Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Pusat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Bantul

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Pusat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Bantul

Jasa Penyusunan Dokumen ISO dan K3 di Sulawesi Tengah

Jasa Penyusunan Dokumen ISO dan K3 di Sulawesi Tengah | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Penyusunan Dokumen ISO dan K3 di Sulawesi Tengah

saco-indonesia.com, Pelaku pembunuhan terhadap Desi Hayatun Nupus yang berusia (21) tahun yang juga sedang hamil delapan bulan d

saco-indonesia.com, Pelaku pembunuhan terhadap Desi Hayatun Nupus yang berusia (21) tahun yang juga sedang hamil delapan bulan dan penganiaya ibunya, Fatoyah yang berusia (45) tahun diduga telah dilakukan oleh orang dekat korban. Pasalnya, warga juga sempat melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku.

"Seperti orang ketakutan kemudian dia berlari," kata saksi Kasdi di lokasi, Minggu (26/01) kemarin malam.

Kasdi telah meyakini bahwa yang ia lihat itu merupakan E, yang tak lain juga merupakan suami dari Desi. E berlari kemudian naik mobil minibus. Tak hanya E saja , Kasdi juga melihat dua orang lain yang bersamaan dengan menggunakan dua sepeda motor. Meski demikian, warga sekitar juga enggan berspekulasi.

"Saya juga sempat mengejar, tapi tidak sampai dapat. Karena mereka bawa mobil dan sepeda motor, sedangkan saya hanya berlari," ujarnya.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Desi dan Ibunya telah ditemukan bersimbah darah di rumahnya Kampung Rawabebek RT 10 RW 11, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, Minggu (26/01) malam.

Desi tewas mengenaskan dengan luka parah akibat senjata tajam di leher, mulut, telinga. Sedangkan, ibunya kritis karena luka tikam di bagian pinggang. Rumah korban pun juga dipenuhi bercak darah korban. Hingga berita ditulis belum ada keterangan resmi dari polisi.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Pengusutan dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) masih

saco-indonesia.com, Pengusutan dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) masih akan terus ditelusuri oleh Kejaksaan Agung (Kejagung).
 
Namun, hingga kini mantan Direktur Enterprise PT Telkom Indonesia Tbk, Arief Yahya selaku perusahaan BUMN, pemenang tender tak kunjung memenuhi pemeriksaaan Kejagung.
 
Padahal, ia diduga telah mengetahui mengenai dugaan korupsi dalam proyek senilai Rp1,4 triliun di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tahun 2010-2012 itu.
 
Atas hal itu, Jaksa Agung Basrief Arief telah menegaskan, kalau pihaknya akan menjemput paksa bila yang bersangkutan kembali mangkir dari pemanggilan yang telah dilakukan.
 
"Pemanggilan dilakukanlah secara formal. Kita panggil 1, 2 kali tidak hadir, kita panggil lagi tetap tidak hadir kita lakukan penjemputan paksa. Kan ada aturan itu kenapa tidak," katanya usai memaparkan hasil kinerja akhir tahun Kejagung di Gedung Kejagung, Jakarta Selatan.
 
Sejauh ini, sambung Basrief, jajarannya masih akan terus melakukan pengembangan atas kasus tersebut dan akan dituntaskan.
 
Basrief juga menambahkan, bukan hanya Arief Yahya yang saja akan diperiksa, siapapun yang diduga terlibat atau mengetahui kasus ini juga akan diperiksa tak terkecuali Menteri Kominfo, Tifatul Sembiring.
 
"Siapapun nanti kalau bagian dari itu akan dimintai keterangan, dari pemeriksaan sampai saat ini belum sampai ke sana (Tifatul), tidak ada hambatan apapun, kita belum ada laporan," pungkasnya.


Editor : Dian Sukmawati

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »