Anda Mencari Tempat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Manokwari Kami Solusinya Hubungi : 0857 1027 2813 konsultaniso9001.net adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan.

Tempat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Manokwari Melalui berbagai TRAINING ISO yang diselenggarakan menggunakan Metode Accelerated Learning, sehingga Karyawan Dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat menerapkan Sistem ini dengan Baik Nantinya. Tempat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Manokwari

Tag :
Konsultan ISO 9001 | Tempat Jasa Konsultan ISO 9001 Berpengalaman di Manokwari

Jasa Sertifikasi ISO di Wonosobo

Jasa Sertifikasi ISO di Wonosobo | Hubungi : 0857 1027 2813 PT Bintang Solusi Utama adalah Jasa Konsultan ISO 9001, Consultant ISO 14001, Konsultan ISO 22000, OHSAS 18001, Penyusunan Dokumen CSMS-K3LL, K3, ISO/TS 16949,Dll yang BERANI memberikan JAMINAN KELULUSAN & MONEYBACK GUARANTEE ( Tanpa Terkecuali ) yang tertuang dalam kontrak kerja. Sebagai Konsultan ISO dan HSE TERBAIK dan BERPENGALAMAN kami siap membantu perusahaan bapak dan ibu dalam membangun sistem manajemen ISO dan HSE dengan pendekatan yang sistematis tanpa ribet dengan tujuan bagaimana sistem ISO tersebut bisa bermanfaat bagi perkembangan perusahaan serta menjadi pondasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Jasa Sertifikasi ISO di Wonosobo

Sebuah kelompok aktivis HAM Suriah mengatakan, serangan- serangan Israel itu menewaskan sedikitnya 42 tentara Suriah. Perbata



Sebuah kelompok aktivis HAM Suriah mengatakan, serangan-serangan Israel itu menewaskan sedikitnya 42 tentara Suriah. Perbatasan Israel dengan Suriah dan Lebanon cukup tenang hari Senin (6/5/2013) meskipun pasukan keamanan ketiga negara tersebut berada dalam kondisi sangat waspada, sehari setelah laporan serangan Israel terhadap Suriah.

Sumber-sumber keamanan di Amerika mengatakan, target serangan itu adalah senjata-senjata canggih yang akan dikirim kepada kelompok militan Hezbollah di Lebanon.

Suriah membantah tuduhan itu. Menteri Penerangan Suriah Omran Al Zoubi membacakan sebuah pernyataan setelah sidang kabinet darurat Minggu malam di Damaskus, yang menyebut serangan-serangan Israel itu sebagai tindakan agresi terang-terangan. Menteri Penerangan Suriah Omran Al Zoubi mengatakan, Suriah berhak dan bertanggung jawab melindungi negara dan rakyatnya dari pelanggaran apa pun di dalam atau luar negeri.

Kantor berita Perancis AFP mengutip sumber-sumber pemerintah yang tidak disebutkan di Damaskus hari Senin, yang mengatakan Suriah akan memilih waktu yang tepat untuk membalas dan ini mungkin tidak terjadi dalam waktu dekat.

Ini merupakan serangan kedua yang dilakukan Israel terhadap Suriah dalam tiga hari ini. Salah satu sasaran dilaporkan telah diserang Israel Januari lalu.

Pejabat-pejabat Israel menolak untuk berkomentar secara langsung atas laporan-laporan itu, tetapi Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Ze’ev Elkin mengatakan kepada radio Israel bahwa Israel khawatir tentang persenjataan canggih Suriah selagi perang saudara di negara itu memasuki tahun ketiga.

Wakil Menteri Luar Negeri Israel Ze’ev Elkin mengatakan, pejabat-pejabat Israel telah menunjukkan kekhawatiran atas persenjataan yang dikirim Iran atau negara-negara lain ke Suriah. Ia menambahkan, yang sangat mengkhawatirkan pejabat-pejabat Israel itu adalah kemungkinan jatuhnya senjata-senjata ini ke tangan Hezbollah.

Surat kabar Israel Yediot Aharonot hari Senin mengabarkan, Israel telah mengirim sebuah pesan rahasia—lewat saluran-saluran diplomatik—kepada Pemerintah Suriah dengan mengatakan Israel tidak berniat terlibat dalam perang saudara di Suriah.

Seorang anggota parlemen Israel—Tzachi Hanegby—yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan, jika ada serangan apa pun dari Israel, serangan itu ditujukan terhadap Hezbollah dan bukan Suriah.

Mantan Duta Besar Israel untuk Amerika, Itamar Rabinovich, yang kini menjadi profesor di Universitas Tel Aviv, mengatakan, perang saudara di Suriah telah menimbulkan dampak pada negara-negara tetangganya yang dibanjiri para pengungsi. Itamar Rabinovich mengatakan, sejauh ini, Israel hanya sedikit terpengaruh oleh perang itu, tetapi ini bisa berubah setiap waktu dan kini semakin mendekati perubahan itu.

Sekutu- sekutu Suriah—Rusia dan China—mengecam serangan tersebut. Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan Perancis prihatin konflik Suriah bisa meluas.

Presiden Amerika Barack Obama mengatakan, Israel berhak melindungi dirinya dari pengiriman senjata kepada Hezbollah.

 
Sumber   : VOAINDONESIA
Editor      :  Egidius Patnistik

saco-indonesia.com, Terimakasih untuk saco indonesia yang memberikan ruang untuk saya dapat share apa apa yang saya ketahui.. Pada kesempatan ini

Terimakasih untuk saco indonesia yang memberikan ruang untuk saya dapat share apa apa yang saya ketahui..

Pada kesempatan ini saya ingin sharing tentang fungsi dan maafaat dari google analistics
Fungsi Google Analytics Untuk website umum digunakan untuk mendapatkan informasi lengkap seputar pengunjung website.

Secara umum fungsi Google Analytics adalah:

  • Mengetahui jumlah pengunjung berdasarkan rentang waktu tertentu, perhari, perminggu, perbulan atau jumlah total. Jumlah pengunjung juga bisa dikategorikan pada pengunjung baru (new visitor) dan pengunjung berulang (returning visitor)
  • Halaman atau artikel yang paling sering dikunjungi berikut jumlah total kunjungan pada masing-masing halaman
  • Mengetahui berapa lama rata-rata waktu yang dihabiskan pengunjung di website
  • Mengetahui sumber kedatangan pengunjung. Pilihannya adalah Mesin pencari (search engine), Pengunjung langsung (direct traffic), dari website lain (referring website) dan lainnya (other)
  • Mengetahui asal negara pengunjung
  • Fungsi Khusus Google Analytics
  • Google Analytics juga memberikan laporan yang lebih detail tentang pengunjung. Berikut ini hal-hal detil yang aku ketahui bisa didapat dari Google Analytics :
  • Pengunjung (Visitors)

Pada bagian ini, anda dapat melihat laporan mengenai :

Total Kunjungan
Total kunjungan baru (pengunjung yang baru pertama kali datang ke website anda)
Rata-rata waktu yang dihabiskan oleh pengunjung di website
Kesetiaan pengunjung. Ini dilihat dari data jumlah kunjungan seseorang ke website anda. Jika berulang maka pengunjung ini dikategorikan sebagai pengunjung setia
Persentasi pengunjung baru dengan total kunjungan
Asal negara pengunjung dan bahasa yang digunakan pengunjung
Jenis browser dan sistem operasi yang digunakan pengunjung
Resolusi monitor pengunjung
Jenis gadget yang digunakan pengunjung (Komputer, Handphone) dan sistem operasi handphone yang digunakan pengunjung
Kecepatan koneksi pengunjung
ISP pengunjung berikut nama ISP tersebut

Sumber Trafik (Traffic Sources)
Google Analytics juga memberikan laporan detil tentang dari mana pengunjung menemukan website kita. Hal-hal yang bisa dilihat adalah :

Asal kunjungan. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, asal kunjungan dikategorikan berdasarkan kunjungan dari search engine, website refferal dan kunjungan langsung. Kita bisa mengambil kesimpulan hal-hal manakah yang mendatangkan pengunjung terbanyak ke website kita. Apakah dari optimasi SEO (Search Engine), kegiatan blog walking dan tebar backlink (Referring Sites) atau dari kunjungan langsung (promosi dari selain blogwalking dan tebar backlink)

Konten (Content)
Pada bagian konten, aku bisa melihat laporan yang rinci mengenai :

Artikel/Posting mana yang paling banyak dikunjungi
Artikel paling akhir yang dibaca oleh pengunjung sebelum meninggalkan website. Dari poin 1 dan 2 ini bisa diambil kesimpulan apakah pengunjung cukup tertarik dengan artikel-artikel lain di website kita. Jika poin 1 dan 2 mengacu pada judul artikel yang sama, secara kasar bisa disimpulkan bahwa konten di website kurang menarik perhatian pengunjung

 

Late in April, after Native American actors walked off in disgust from the set of Adam Sandler’s latest film, a western sendup that its distributor, Netflix, has defended as being equally offensive to all, a glow of pride spread through several Native American communities.

Tantoo Cardinal, a Canadian indigenous actress who played Black Shawl in “Dances With Wolves,” recalled thinking to herself, “It’s come.” Larry Sellers, who starred as Cloud Dancing in the 1990s television show “Dr. Quinn, Medicine Woman,” thought, “It’s about time.” Jesse Wente, who is Ojibwe and directs film programming at the TIFF Bell Lightbox in Toronto, found himself encouraged and surprised. There are so few film roles for indigenous actors, he said, that walking off the set of a major production showed real mettle.

But what didn’t surprise Mr. Wente was the content of the script. According to the actors who walked off the set, the film, titled “The Ridiculous Six,” included a Native American woman who passes out and is revived after white men douse her with alcohol, and another woman squatting to urinate while lighting a peace pipe. “There’s enough history at this point to have set some expectations around these sort of Hollywood depictions,” Mr. Wente said.

The walkout prompted a rhetorical “What do you expect from an Adam Sandler film?,” and a Netflix spokesman said that in the movie, blacks, Mexicans and whites were lampooned as well. But Native American actors and critics said a broader issue was at stake. While mainstream portrayals of native peoples have, Mr. Wente said, become “incrementally better” over the decades, he and others say, they remain far from accurate and reflect a lack of opportunities for Native American performers. What’s more, as Native Americans hunger for representation on screen, critics say the absence of three-dimensional portrayals has very real off-screen consequences.

“Our people are still healing from historical trauma,” said Loren Anthony, one of the actors who walked out. “Our youth are still trying to figure out who they are, where they fit in this society. Kids are killing themselves. They’re not proud of who they are.” They also don’t, he added, see themselves on prime time television or the big screen. Netflix noted while about five people walked off the “The Ridiculous Six” set, 100 or so Native American actors and extras stayed.

Advertisement

But in interviews, nearly a dozen Native American actors and film industry experts said that Mr. Sandler’s humor perpetuated decades-old negative stereotypes. Mr. Anthony said such depictions helped feed the despondency many Native Americans feel, with deadly results: Native Americans have the highest suicide rate out of all the country’s ethnicities.

The on-screen problem is twofold, Mr. Anthony and others said: There’s a paucity of roles for Native Americans — according to the Screen Actors Guild in 2008 they accounted for 0.3 percent of all on-screen parts (those figures have yet to be updated), compared to about 2 percent of the general population — and Native American actors are often perceived in a narrow way.

In his Peabody Award-winning documentary “Reel Injun,” the Cree filmmaker Neil Diamond explored Hollywood depictions of Native Americans over the years, and found they fell into a few stereotypical categories: the Noble Savage, the Drunk Indian, the Mystic, the Indian Princess, the backward tribal people futilely fighting John Wayne and manifest destiny. While the 1990 film “Dances With Wolves” won praise for depicting Native Americans as fully fleshed out human beings, not all indigenous people embraced it. It was still told, critics said, from the colonialists’ point of view. In an interview, John Trudell, a Santee Sioux writer, actor (“Thunderheart”) and the former chairman of the American Indian Movement, described the film as “a story of two white people.”

“God bless ‘Dances with Wolves,’ ” Michael Horse, who played Deputy Hawk in “Twin Peaks,” said sarcastically. “Even ‘Avatar.’ Someone’s got to come save the tribal people.”

Dan Spilo, a partner at Industry Entertainment who represents Adam Beach, one of today’s most prominent Native American actors, said while typecasting dogs many minorities, it is especially intractable when it comes to Native Americans. Casting directors, he said, rarely cast them as police officers, doctors or lawyers. “There’s the belief that the Native American character should be on reservations or riding a horse,” he said.

“We don’t see ourselves,” Mr. Horse said. “We’re still an antiquated culture to them, and to the rest of the world.”

Ms. Cardinal said she was once turned down for the role of the wife of a child-abusing cop because the filmmakers felt that casting her would somehow be “too political.”

Another sore point is the long run of white actors playing American Indians, among them Burt Lancaster, Rock Hudson, Audrey Hepburn and, more recently, Johnny Depp, whose depiction of Tonto in the 2013 film “Lone Ranger,” was viewed as racist by detractors. There are, of course, exceptions. The former A&E series “Longmire,” which, as it happens, will now be on Netflix, was roundly praised for its depiction of life on a Northern Cheyenne reservation, with Lou Diamond Phillips, who is of Cherokee descent, playing a Northern Cheyenne man.

Others also point to the success of Mr. Beach, who played a Mohawk detective in “Law & Order: Special Victims Unit” and landed a starring role in the forthcoming D C Comics picture “Suicide Squad.” Mr. Beach said he had come across insulting scripts backed by people who don’t see anything wrong with them.

“I’d rather starve than do something that is offensive to my ancestral roots,” Mr. Beach said. “But I think there will always be attempts to drawn on the weakness of native people’s struggles. The savage Indian will always be the savage Indian. The white man will always be smarter and more cunning. The cavalry will always win.”

The solution, Mr. Wente, Mr. Trudell and others said, lies in getting more stories written by and starring Native Americans. But Mr. Wente noted that while independent indigenous film has blossomed in the last two decades, mainstream depictions have yet to catch up. “You have to stop expecting for Hollywood to correct it, because there seems to be no ability or desire to correct it,” Mr. Wente said.

There have been calls to boycott Netflix but, writing for Indian Country Today Media Network, which first broke news of the walk off, the filmmaker Brian Young noted that the distributor also offered a number of films by or about Native Americans.

The furor around “The Ridiculous Six” may drive more people to see it. Then one of the questions that Mr. Trudell, echoing others, had about the film will be answered: “Who the hell laughs at this stuff?”

The bottle Mr. Sokolin famously broke was a 1787 Château Margaux, which was said to have belonged to Thomas Jefferson. Mr. Sokolin had been hoping to sell it for $519,750.

Artikel lainnya »